RIVIEW MAKALAH PSIKOLOGI KONSELING KONSELING ISLAM

Tugas Riview Makalah
Diusun untuk memenuhi tugas 
Mata kuliah : Psikologi Konseling

                                           Dosen Pembimbing : Uswatun Hasanah. M, Pd.I


Disusun oleh :

Ahmad nurcholis             (1904031001)


BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
METRO LAMPUNG
1441 H/2020



Riview Materi Kelompok 1
Definisi Psikologi Konseling

A.  PENGERTIAN PSIKOLOGI KONSELING
Psikologi Konseling terdiri atas dua kata, yaitu Psikologi dan Konseling. Dalam pandangan beberapa ahli psikologi, kedua istilah ini mengandung arti yang berbeda. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psiche dan logos. Psiche berarti jiwa, sukma, dan roh. Sedangkan logos berati ilmu pengetahuan atau studi. Secara etimologi psikologi berarti: “ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun, latar belakangnya”. Jadi, pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang jiwa. Sedangkan pengertian Konseling, secara etimologi, berasal dari bahasa Latin yaitu conilium (dengan atau bersama) yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Dalam Bahasa Anglo Saxon, istilah konseling berasal dari sellan, yang berati menyerahkan atau menyampaikan.
 Jika kedua istilah itu digabungkan maka psikologi konseling bermakna proses konseling berupa bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu yang mengalami masalah melalui pendekatan psikologi. Psikologi konseling adalah suatu kegaiatan antar konselor dan klien yang berlangsung untuk mencari akar masalah dan memecahkannya. Klien yang dating kepada konselor kebanyakan tahu apa masalah yang dihadapi tapi merasa binggung bagaimana menemukan akar masalah tersebut.
Psikologi Konseling merupakan suatu kegiatan yang dibangun melalui adanya interaksi antara klien dengan psikolog/konselor untuk mengidentifikasi persepsi, kebutuhan, nilai, perasaan, pengalaman, harapan, serta masalah yang dihadapi klien. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah psikologis klien dengan menyadarkan klien akan akar masalah yang sebenarnya dihadapi hingga akhirnya klien dapat menemukan sendiri solusi dari masalah yang dihadapinya. Seorang yang menghadapi permasalahan dalam hidupnya, kadang kala diraskan begitu berat atau mengganggu kehidupannya dalam keseharian. Namun, seringkali mereka menghadapi masalah tersebut tanpa tahu benar dan menyadari apa sebenarnya akar dari masalah mereka tersebut. Melalui proses konseling inilah bersama-sama antara konselor dengan klien menemukan akar masalah yang ada dan menyadarkan klien akan apa yang harus dilakukannya untuk memecahkan masalahnya tersebut.

B.     FUNGSI PSIKOLOGI DAN APLIKASINYA SEBAGAI ILMU
Sebagai sebuah ilmu yang cukup dinamis perkembangannya, eksistensi psikologi memberikan andil yang besar dalam mendeskripsikan suatu keadaan dan kejadian yang sering kali dialami oleh manusia. Tidak melulu kasus-kasus yang berhubungan dengan hukum kriminal, Pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan politik, tetapi tinjauan ilmu psikologi juga mencaup persoalan ekonomi dan perbankan.
Di bidang social, peranan psikologi massa menjadi sangat penting untuk dijadikan sebagai pertimbangan terhadap kejadian-kejadian social dan maraknya unjuk rasa yang berakhir anarkis. Bahkan, upaya seorang pimpinan politik untuk menarik simpati massa pun memerlukan peranan ilmu psikologi. Bias dikatakan bahwa saat ini ilmu psikologi sudah merambah atau memasuki semua bidang kehidupan.
Di bidang politik, terutama yang dinamakan ’massa psikologi’. Karena prinsip-prinsip politik lebih luas daripada prinsip-prinsip hukum dan meliputi banyak hal yang berada di luar hukum dan masuk dalam yang lazim dinamakan ’kebijaksanaan’, bagi para politisi sangat penting apabila mereka dapat menyelami gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, dan dari golongan tertentu pada khususnya, bahkan juga dari oknum tertentu.



Secara garis besar, fungsi psikologi bagi kehidupan manusia dibagi tiga, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.       Menjelaskan objek atau subjek. Artinya, dalam pelaksanaannya, ilmu psikologi dapat menjelaskan kondisi kejiwaan suatu subjek atau objek. mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi.
2.      Mendeskripsikan Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi dan mengambarkan kejiwaan seseorang untuk tujuan tertentu.
3.       Pengendalian , yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan yang sifatnya preventif atau pencegahan, intervensi atau treatment serta rehabilitasi atau perawatan.

C.    TUJUAN KONSELING
1.      Membantu seorang individu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan, tuntutan positif lingkungannya dan predisposisi yang dimilikinya seperti kemampuan dasar dan bakatnya, dalam berbagai latar belakang yang ada seperti keluarga, pendidikan, atau status ekonomi
2.      Membuat seseorang mengenali dirinya sendiri dengan memberi informasi kepada individu tentang dirinya, potensinya, kemungkinan kemungkinan yang memadai bagi potensinya dan bagaimana memanfaatkan pengetahuan sebaik-baiknya.
3.      Memberi kebebasan kepada individu untuk membuat keputusan sendiri serta memilih jalurnya sendiri yang dapat megarahkannya.
4.      Dalam menjalani hidup menjadikan individu lebih efektif, efisien dan sistematis dalam memilih alternatif pemecahan masalah.
5.      Konseling membantu individu untuk mengahapus/menghilangkan tingkah laku maladaptif (masalah) menjadi tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.

Riview Materi Kelompok 2
Sejarah Psikologi Konseling

A.  Sejarah Perkembangan Psikologi Konseling
Latar Belakang Perkembangan Profesi Konseling Tidak Dapat Dipisahkan Dari Dua Jalur Penanganan Terhadap Masalah-Masalah Yang Dihadapi Masyarakat Barat, Yaitu Tradisi Gangguan Mental Dan Penanganan Masalah-Masalah Pendidikan Dan Pekerjaan Di Sekolah. Meskipun tidak jelas tercatat waktu dimulainya psikologi konseling sebagai sebuah profesi, namun sejarah mencatat nama Jesse M. Davis pada tahun 1898 sebagai orang yang pertama melakukan kegiatan ini. Ia banyak membantu menyelesaikan persoalan murid-muridnya, terutama yang berhubungan dengan persoalan studi mereka tempuh.
Munculnya bimbingan dan konseling di barat tidak lepas dari campur tangan seorang Frank Parsons yang di kemudian hari populer dengan sebutan The Father of Guidance. Ia sangat menekankan pentingnya memberikan pertolongan kepada orang lain supaya dapat memahami dan mengenal pribadi masing-masing, sehinggamereka akan mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri mereka, supaya mereka bisa menggunakan keahliannya dengan tepat. Dialah yang mendirikan “Vocational Bureau” pada tahun 1908 M atau sekitar abad ke-20. Frank parson, pada tahun 1908, ia membuka biro konsultasi di Boston untuk memilih dan menentukan jurusan dalam sebuah pekerjaan dan jabatan.
Pada tahun 1909, banyak kegiatan konseling yang dilakukan oleh konselor-konselor yang bertindak sebagai konselor di Amerika, khususnya di NewYork. Di dirikannya Lembaga Riset Stabilisasi Pekerjaan oleh Universitas Minnesota pada tahun 1931. Program penelitian jabatan pada tahun 1933 yang bersifat nasional.
Perkembangan konseling selanjutnya terinspirasi oleh sebuah buku yang ditulis oleh Clifford Beers, yang berisi pengalaman pribadinya selama tiga tahun dirawat di rumah sakit jiwa. Bukunya berjudul A Mind That A Found Itself, dan menghasilkan banyak gagasan baru, terutama gagasan untuk mendirikan Komite Nasional untuk kesehatan mental pada tahun 1908.
Tren positif konseling sebagai sebuah profesi dan diakui secara resmi terjadi pada tahun 1918. Tahun 1920-1930, Departemen Pendidikan di Amerika menempatkan tenaga khusus di sekolah kejuruan dengan nama Tenaga Bimbingan Penyuluh untuk membantu klien memasuki dunia kerja. Kegiatan profesional itu terus berlanjut ke negara-negara lain di luar Amerika. Selain itu perkembangan bimbingan dan konseling di Amerika cukup pesat hal itu ditandai dengan berdirinya APGA (American Personnel and Guidance Association)pada tahun 1952. Kemudian pada bulan Juli 1983 organisasi ini berubah nama menjadi AACD (American Association for Counseling and Development).
Setelah perang dunia II peran bimbingan dan konseling lebih tertuju kepada masyarakat, lebih-lebih kepada para tentara yang baru datang dari medan perang dan akan kembali ke masyarakat. Demikian merupakan bukti bahwa bimbingan dan konseling yang sekarang merupakan tindak lanjut dari apa yang telah diperjuangkan oleh Frank Parsons.  Di Indonesia, sekitar tahun 50-an kegiatan itu pertama kali diperkenalkan oleh Slamer Iman Santoso di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

B.  Pengaruh Beberapa Aliran Psikologi Terhadap Konseling
Sejarah panjang konseling tidak dapat lepas dari psikologi sebagai ilmu yang mendasarinya. Beberapa aliran psikologi yang mempengaruhi konseling.
1.    Pengaruh Psikologi Belajar Terhadap Psikologi Konseling
a.       Filosofi Psikologi Belajar
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya innteraksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.


b.      Teori-Teori Dalam Psikologi Belajar
1)   Teori Koneksionisme Rhorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Dapat diketahui bahwa perubahan tingkah laku sebagai akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud konkret (dapat diamati) atau tidak konkret (tidak dapat diamati).
2)   Teori Conditioning Watson
Ini merupakan dari teori belajar yang sebelumnya. Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur.
3)   Teori Conditioning Edwin Guthrie
Edwin Guthrie menjelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara. Oleh sebab itu, dalam kegiatan belajar, peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat tetap.
4)   Teori Operant Conditioning Skinner
Menurut Skinner, perubahan tigkah laku itu dipengaruhi oleh hubungan antara sstimulus dan respons dalam lingkungannya. Teori Skinner ini paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik.
5)   Teori Systematic Behavior Clark Hull
Teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam sebuah kegiatan manusia.



Riview Materi Kelompok 3
Karakteristik Konseling

A.    Pengertian Psikologi  Konseling
Psikologi Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konsele) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Berikut Pengertian Konseling Menurut Para Ahli
1.      Menurut Schertzer dan Stone (1980)
Psikologi Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
2.      Menurut Jones (1951)
Psikologi Konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Dimana ia diberi panduan pribadi dan langsung dalam pemecahan untuk lkien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.
3.       Prayitno dan Erman Amti (2004:105)
Psikologi Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.




B.   Konseling Sebagai Bantuan
Menurut Lewis (Singgih D. Gunarsah, 32), seseorang membutuhkan konseling karena banyak alasan. Lewis menggolongkan alasan ke dalam tiga pokok, yaitu :
1.      Seseorang mengalami semacam ketidakpuasan pribadi, dan tidak mampu mengatasi ketidak[uasan tersebut. Ia berusaha supaya dapat mengatasi ketidak puasan, namun ia tidak tahu caranya. Disinilah perlunya bantuan dari orang lain.
2.       Seorang memasuki dunia konseling dengan kecemasan itu bukan  hanya berasal dari beberapa segi kehidupannya yang mengguncang , tetapi juga karena ia menghadapi dirinya sendiri yang memasuki dunia baru dan asing berupa ruangan konseling.
3.      Seseorang yang membutuhkan koneling itu sebenarnya tidak mempuyai gambaran yang jelas tentang sesuatu yang munkin terjadi.

C.  Konseling Untuk Perubahan Perilaku
Tujuan akhir dari proses konseling adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih positif dan konstruktif. Perubahan tingkah laku merupakan proses yang aktif dan bereaksi dalam situasi yang ada pada klien. Itu berarti bahwa proses perubahan tingkah laku darahkan pada tujuan dan proses berbuat melalui situasi yang ada pada klien. Ada beberapa teori  perubahan tigkah laku  berdasarkan pada aliran psikologi melandasinya. Yaitu:
1.      Teori Perubahan Tingkah Laku Behaviorisme.
2.      Teori Perubahan Tingkah Laku Kognitif.
3.      Teori Perubahan Tingkah Laku Gestalk.

D. Karakteristik Konselor
1.      Kepribadian konselor
2.      Kualitas konselor
3.      Keterampilan penghampiran
4.      Keterampilan empati
5.      Keterampilan merangkumkan
6.      Keterampilan bertanya
7.      Keterampilan kejujuran (genuineness)
8.      Keterampilan asertif
9.      Keterampilan konfrontasi
10.  Keterampilan pemecahan masalah


























REVIEW  MAKALAH KELOMPOK 4
“Komunikasi Dalam Konseling”

Secara etimologis perkataan komunikasi berasal dari Bahasa Latin yaitu communicare yang berarti berpartisipasi atau memberitahukan. Komunikasi berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Berdasarkan definisi yang dikemukakan ini dapat dijelaskan bahwa komunikasi berkaitan dengan penyampaian sesuatu berupa pesan ataupun pandangan dalam rangka mencari kesamaan pandanga.
Unsur-unsur komunikasi terdiri dari yaitu sumber, pesan, media, penerima, pengaruh atau efek, umpan balik atau tanggapan. Macam-macam komunikasi dalam konseling yaitu komunikasi non verbal dan verbal. Komunikasi non verbal adalah proses komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata dalam menyampaikan pesan. Contoh komunikasi nonverbal adalah gerak isyarat, bahasa tubuh, serta ekspresi wajah dan kontak mata. Termasuk dalam komunikasi nonverbal adalah penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara. Dan komunikasi verbal adalah proses komunikasi yang menggunakan kata-kata dalam menyampaikan pesan. Dan ada juga komunikasi interpersonal dan intrapersonal. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang menyertakan dua orang atau lebih dalam tatanan komunikasi secara tatap muka). Komunikasi antarpribadi sebenarnya merupakan satu proses dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya saling mempengaruhi. Sedangkan komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi dengan diri sendiri. Ini merupakan dialog internal dan bahkan dapat terjadi saat bersama dengan orang lain sekalipun.





REVIEW MAKALAH KELOMPOK 5
“Manajemen Stress”

Stres merupakan fenomena  psikofisik yang manusiawi. Artinya, sters itu bersifat inheren pada diri setiap orang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Stress dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial-ekonomi. Manajemen stres merupakan kecakapan dalam menghadapi tantangan dengan cara mengendalikan tanggapan secara proporsial. Stress bisa dialami oleh bayi, anak-anak, remaja, atau dewasa; pejabat atau warga masyarakat biasa; pengusaha atau karyawan; serta pria maupun wanita.
Stress dapat memberikan pengaruh positif dan negative terhadap individu. Pengatuh positif stress adalah mendorong individu untuk melakukan suatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negatifnya adalah menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah, atau depresi, yang kemudian memiju munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi atau stroke.
Pengaruh negative dari stress dapat di simak dari kisah tersebut. Kasus ini menunjukan bahwa sikap penolakan dan perlakuan seorang ibu yang kasar terhadap anak dapat menyebabkan stress bagi anak yang berangkutan. Stress bagi anak yang berkepanjangan ternyata berpengaruh negative bagi perkembangan pribadinya, yaitu bersifat kurang percaya diri, dan tidak memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu.






REVIEW MAKALAH KELOMPOK 6
“Kondisi Psikologis Yang Menunjang Proses Konseling”

Secara konvensional, konseling didefinisikan sebagai pelayanan professional (professional service) yang diberikan oleh konselor kepada klien secara tatap muka (face to face) agar klien dapat mengembangkan perilakunya ke arah lebih maju (progressive).
Secara umum kondisi psikologis merupakan keadaan, situasi yang bersifat kejiwaan. Konseling merupakan profesi bantuan (helping pro-fession) yang diberikan oleh konselor kepada konseli yang berlangsng dalam suatu kondisi psikologis yang diciptakan bersama. Kondisi psikologis ini akan memengaruhi proses dan hasil konseling.
Pelayanan konseling berlangsung dalam suatu kondisi psikologis tertentu yang dibina konselor dan difokuskan untuk memfasilitasi konseli agar dapat melakukan perubahan perilaku ke arah yang lebih maju (progressive) sebagai hasil konseling. Jadi kondisi psikologis yang dimaksud di sini adalah kondisi psikologis yang menunjang proses konseling.




REVIEW MAKALAH KELOMPOK 7
“Teknologi Dalam Konseling”

Istilah teknologi berasal dari bahasa Yunani technologia yang menurut Webster Dictionary berarti systematic treatment atau penanganan sesuatu secara sistematis, sedangkan techne sebagai dasar kata teknologi berarti art, skill, science atau keahlian, ketrampilan, dan ilmu. Jadi teknologi dapat diartikan sebagai pegangan atau pelaksanaan sesuatu secara sistematis, menurut sistem tertentu.
Revolusi industri sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sejak akhir abad ke 19 turut mempengaruhi pendidikan dengan menghasilkan alat pendidikan seperti fotografi, gramofon, film, filmstrip, sampai kepada radio, televisi, komputer, laboratorium, video tape, dan sebagainya.
Partisipan konseling bisa jadi individual, pasangan,atau kelompok. Lokasi untuk menghantarkan konseling dapat berupa tatap muka atau jarak jauh dengan bantuan teknologi. Media komunikasi untuk konseling dapat berupa apa yang dibaca dari teks, apayang didengar dari audio, apa yang dilihat dan didengar dari seseorang atau video. Proses interaksi pada konseling dapat sinkron atau tidak sinkron. Interaksi sinkron terjadi jika ada selang waktu yang sedikit atau tidak ada selang waktu sama sekali antara tanggap konselor dan klien. Interaksi sinkron terjadi jika ada selang waktu antara tanggapan konselor dan klien.






REVIEW MAKALAH KELOMPOK 8
“Hubungan Terapeutik”

Hubungan terapeutik merupakan proses hubungan antara klien dan konselor yang mempunyai nilai-nilai penyembuhan dan akhirnya dapat mencapai tujuan konseling. Dalam hubungan tersebut klien merasa di hargai, di terima dan di arahkan. Dalam hubungan tersebut klien dapat meredakan ketegangan (katarsis), mengekspresikan perasaan dan pikiran, mengurangi beban psikologis bahkan menghilangkan sama sekali.
Faktor-faktor penghambat dalam proses komunikasi terpeutik adalah :
a.  Kemampuan pemahaman yang berbeda.
b.  Komunikasi satu arah.
c.  Memberitahu apa yang harus dilakukan kepada penderita
d.  Membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi
e.  Memberikan kritik mengenai perasaan penderita
f.  Menghentikan/mengalihkan topik pembicaraan
g.  Terlalu banyak bicara yang seharusnya mendengarkan.
h.  Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi
i.  Sikap yang kurang tepa
j.  Kurang pengetahuan
k.  Kurang memahami sistem social
Adapun Komunikasi Terapeutik dalam Perawatan.
a.  Pengkajian
1)  Menentukan kemampuan seseorang dalam proses informasi.
2)  Mengevaluasi data tentang status mental pasien untuk menentukan batas intervensi.
3)  Mengevaluasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi secara verbal.
4)  Mengobservasi apa yang terjadi pada pasien tersebut saat ini.
5)  Mengidentifikasi tingkat perkembangan pasien sehingga interaksi yang diharapkan bisa realistik.
6)  Menentukan apakah pasien memperlihatkan sikap verbal dan nonverbal yang sesuai.
7)  Mengkaji tingkat kecemasan pasien sehingga dapat mengantisifasi intervensi yang dibutuhkan.
b.  Diagnosa keperawatan
1)  Analisa tertulis dari penemuan pengkajian.
2)  Sesi perencanaan tim kesehatan
3)  Diskusi dengan klien dan keluarga untuk menentukan metoda implementasi
4)  Membuat rujukan.
c.  Rencana tujuan
1)  Rencana asuhan tertulis
2)  Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
3)  Membantu pasien agar dapat menerima pengalaman yang pernah dirasakan.
4)  Meningkatkan harga diri pasien.
5)  Memberikan support karena adanya perubahan lingkungan.
6)  Perawat dan pasien sepakat untuk berkomunikasi secara lebih terbuka.
d.  Implementasi
1)  Memperkenalkan diri kepada pasien
2)  Memulai interaksi dangan pasien.
3)  Membantu pasien untuk dapat menggambarkan pengalaman pribadinya.
4)  Menganjurkan kepada pasien untuk dapat mengungkapkan perasaan kebutuhannya.
5)  Menggunakan komunikasi untuk meningkatkan harga diri pasien.














REVIEW MAKALAH KELOMPOK 9
“Senyuman Dan Empati”

Senyum merupakan komponen gerakan wajah yang berhubungan dengan dan disebabkan oleh perasaan bahagia atau senang.Ekman dan Friesen membagi dua macam senyum palsu, yaitu phony smiles dan masking smiles. Dalam phony smiles, tidak ada sesuatu yang dirasakan, tetapi usaha dibuat untuk menunjukkan seolah-olah perasaan positif dirasakan. Dalam masking smiles, emosi negatif yang kuat dirasakan dan usaha dibuat untuk menyembunyikan perasaan ini dengan menunjukkan perasaan positif.
empati adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat menempatkan dirinya kedalam pikiran dan perasaan orang lain yang dilakukan secara sadar, tanpa harus secara nyata terlibat dalam perasaan maupun tanggapan orang tersebut. empati terdiri dari dua komponen yaitu komponen kognitif (perpective taking dan fantasy) dan komponen afektif (emphatic concern dan personal distress).








REVIEW MAKALAH KELOMPOK 10
“Tes Melengkapi Kalimat”

SSCT dilengkapi dengan sebuah lembaran penelitian (rating sheet). Pada lembaran tersebut telah diadakan penggolongan masing-masing sikap yang akan dinilai, lengkap dengan keempat item yang mendukung masing-masing sikap dan jawaban subjek sebaiknya dipindahkan pada lembaran penilaian tersebut.
Setelah ringkasan aspek dalam SSCT diberi skor atau diberikan penilaian maka langkah selanjutnya adalah membuat deskripsi tentang ringkasan umum atau kesimpulan umum terhadap klien yang sudah menyelesaikan pengisian SSCT. Kesimpulan umum yang diberikan adalah dengan melihat penilaian terhadap seluruh sikap dalam SSCT dan mengaitkan makna gangguan yang mungkin terjadi antara sikap tersebut.
Asumsi tes ini adalah:
a.       bila seorang disuruh untuk merespont dengan ide yang mula-mula muncul pada dirinya, orang tersebut biasanya memberikan jawaban yang signifikan.
b.      bila seorang dihadapkan pada stimulus yang tidak jelas stukturnya, maka orang tersebut akan memberikan respond yang paling sesuai dengan dirinya, dan
c.       membicarakan orang lainberarti dapat mengungkapkan dirinya sendiri. SSCT dapat digunakan untuk membantu mengungkapkan masalah yang dihadapi olh klien. Madalah-masalah klien tersebut dapat dilacak melalui pertemuan konseling.







REVIEW MAKALAH KELOMPOK 11
“Konseling Khusus”

Indijenes berasal dari kata Indigenous (bahasa Inggris). Secara harfiah artinya pribumi atau asli. Konseling Indijenes adalah konseling yang berdasarkan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.
Sebagian besar teori-teori konseling berasal dari negara-negara Barat. Teori-teori tersebut dikembangkan oleh para ahli untuk membantu individu yang membutuhkannya dengan menggunakan metode terapi tertentu, terutama untuk masyarakat mereka sendiri. Teori-teori Freud, Adler, Sulliyan, Jung, Maslow, Erickson, dan Hall sering digunakan secara universal (Munarriz, 1982).
Mohamad (1982) mengemukakan konsep bimbingan dan konseling, menurut pandangan Islam sebagai salah satu alternatif konseling indijenes di Malaysia. Alasannya adalah karena sebagian besar penduduk Malaysia beragama Islam. Teknik tersebut dapat dilakukan bersama konselor atau dilakukan sendiri oleh klien. Hal-hal yang dikemukakan Mohammad, baru merupakan pemikiran atau konsep-konsep bimbingan dan konseling Islami sebagai alternatif  konseling indijenes di Malaysia.
1.      Psikologi indijenes menguji fenomena psikologi dalam konteks ekologi, sejarah, dan budaya.
2.      Psikologi indijenes dikembangkan pada semua aspek budaya, penduduk asli dan kelompok etnis.
3.      Psikologi indijenes menggunakan multimetode.
4.      Psikologi indijenes terintregrasi secara “insider, outsider” dan multiperspektif untuk mencapai pemahaman yang komprehensif dan integratif.
5.      Psikologi indijenes mengakui bahwa orang mempunyai suatu pemahaman yang kompleks dan sofistikasi terhadap diri mereka dapat menggunakan dalam kehidupan praktis dan sebagai pengetahuan.

















REVIEW MAKALAH KELOMPOK 12
“Kode Etik Profesi Bimbingan Konseling Indonesia”

maka setiap praktisi bimbingan dan konseling dalam melaksanakan tugasnya harus diiringi etika-etika khusus. Etika dalam proses konseling disusun dalam bentuk kode etik profesi sehingga mudah dipahami, dihayati, dan dilaksanakan oleh konselor.
Kode memiliki arti tulisan (berupa kata- kata, tanda) dengan persetujuan mempunyai arti atau maksud tertentu. Sedangkan Etikdiartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma yang dapat diterima oleh masyarakat yang berada pada suatu lingkungan, sehingga baik buruk akan sesuatu hal dilihat dari norma-norma yang berlaku pada masyarakat tersebut.
A.    Tujuan Penegakan Dan Penerapan Kode Etik
1.      Menjunjung tinggi martabat profesi
2.      Melindungi masyarakat dari perbuatan malpraktik
3.      Meningkatkan mutu profesi
4.      Menjaga standar mutu dan status profesi
5.      Penegakan ikatan antara tenaga profesi dan profesi yang disandangnya
B.     Landasan Legal
Selain anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ABKIN, landasan legal kode etik profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah:
1.      Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 NKRI dan Bhineka Tunggal Ika
2.      Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
3.      PP RI No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (pasal 28 ayat 1, 2 dan 3 Tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan)
4.      PP RI No. 24 Tahun 2008 Tentang Guru
5.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
6.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 27 Tahun 2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor
7.      Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) yang disusun dan diberlakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mulai Tahun 2003/2004
Panduan Pengembangan Din yang disusun dan diberlakukan oleh Pusat Kurikulum Badan Pengembangan dan Penelitian Pendidikan sejak tahun 2006

Komentar

Posting Komentar